Shazma.

Shaz, tapi aku ngga pake susi tapi pake telor dadar. Eggy, kata Mama.
Note: pada bagian kalimat terakhir adalah asli tulisan Dinda (belajar posting sendiri di blog).
Ini adalah langkahku berawal dari langkah kecilku untuk mencapai asa.







ada juga Buck, seekor musang pendekar yang terobsesi untuk menaklukkan musuh abadinya, seekor dinosaurus bernama Rudy. Maka dari itu, rombongan Manny dan kawan-kawan dibantu Buck bertualang di dunia reptil raksasa bawah tanah untuk menyelamatkan Sid.
Ternyata filmnya lucu dan mengajarkan kesetiakawanan.







ta Jakarta baik itu mengenai asal-muasalnya, kesenian, lingkup daerah, juga ada barang-barang bersejarah yang ditemukan atau yang digunakan masyarakat Jakarta pada saat itu. Selain itu ada pula barang-barang besar seperti lemari, perabotan-perabotan yang dipakai oleh penduduk Jakarta yang tidak hanya yang dipakai oleh penduduk asli tetapi oleh para pendatang juga termasuk di sini oleh para penjajah negeri kita saat itu.
bawah museum ditempatkan pula contoh dapur orang-orang Jakarta atau biasa disebut orang Betawi jaman dahulu. Di jaman sekarang mungkin sudah punah ya, hanya tinggal segelintir orang saja yang masih memakai dapur model seperti ini. Di sini mbak Aya tampak takjub membayangkan dapur orang Betawi di jaman itu.
Usai dari Museum Fatahilah kami menuju Museum Wayang, yang letaknya tak berjarak jauh. Masih di sekitar lingkungan pelataran luas tersebut. Tetapi di sini akhirnya aku tidak berani masuk, aku gak berani melihat bentuk-bentuk wayang yang ada. Mungkin lain waktu aku sudah lebih berani. Di sini Abang Radi sempat berfoto dengan salah satu patung wayang.


Perjalanan ini ke kota tua kali ini sungguh mengesankan bagiku. Paling tidak aku sudah tahu dimana kota tua Jakarta yang selama ini hanya aku tahu dari buku. Mungkin nanti kalau aku sudah SD aku akan minta diajak ke sini lagi, agar aku lebih paham mengenai kekayaan budaya dan wisata Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.



Sambil Papa beristirahat nyetir dan ngobrol-ngobrol dengan kang Ujang aku bermain-main balon sabun yang kemarin sempat dibeli di The Junggle. Fuuuuh.... Blub blub blub.... Balon-balon kecil berterbangan.
mah Pak Haji aku dikenalkan cengan cucu Pak Haji, namanya Neng Aca. Lucu, manis, dan baik. Neng Aca temannya banyak. Kami kemudian bermain bersama. Sementara itu Papa dan Pak Haji bersama teman-teman silatnya ngobrol-ngobrol dan berlatih silat, Mama dan Bu Haji ngobrol tentang dunia ibu-ibu (barangkali...), mbak Aya dan Abang Radi sibuk berdua ngobrol.
Setelah dapat penginapan kami langsung jalan-jalan mencari makan malam. Jalan kaki menyusuri kota Bandung di malam hari. Setelah lelah kami istirahat, memperiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan esok hari.

Setiap individu memiliki kelebihan dan sisi yang tidak lebih (kalau bisa dikatakan bukan sebagai kekurangan). Sebagian anak ada yang sangat pandai dalam bidang matematika, tetapi di sisi lain dia mengalami kesulitan dalam menghafal yang berbau sejarah. Atau di lain tempat ada anak yang sangat tekun dalam mengutak-atik barang-barang elektronik, tetapi dia tidak memahami seluk-beluk mengenai tanaman. Kejadian lain lagi, ada anak yang suka sekali membaca dengan kecepatan membaca serta pehaman bacaan yang baik tetapi di sisi lain dia ternyata tak suka dengan bidang gambar-menggambar.
Tetapi sebagai dasar .... anak-anak harus mengenal 2 hal membaca dan menulis. Oleh karena itu di awal pendidikan anak diperkenalkan dengan kedua hal ini. Yang dalam prakteknya ada anak yang lebih cepat membaca(biasanya anak laki-laki) tetapi lebih lamban dalam kemampuan menulisnya, atau sebaliknya ada yang lebih cepat bisa menulis(biasanya anak perempuan), ini menurut penelitian psikologi loh.
Pengenalan membaca dan menulis di era sekarang ini biasanya sudah diperkenalkan pada masa pendidikan di bangku Taman Kanak-kanak(TK), karena tuntutan pendidikan jenjang yang lebih tinggi.
Saat ini Dinda sudah duduk di bangku TK A, Dinda sudah bisa membaca dengan lancar dan menulis dengan tidak lancar. Di sinilah masalahnya, kenyataannya Dinda sangat enggan kalau belajar yang berhubungan dengan hal-hal menulis, sedangkan teman-teman sekelasnya sudah mampu menulis dengan baik.
Memang dibutuhkan kelapangdadaan orang tua untuk tidak berkecil hati, dalam hal ini khususnya saya sebagai mamanya yang sering berhubungan langsung dengan pihak sekolah. Sebagai orang tua kita harus yakin apa pun permasalahannya pasti ada jalan keluarnya. Guru sekolah menjelaskan Dinda cepat bosan menulis, teman-temannya sudah dapat sepuluh baris kalimat Dinda baru satu baris kalimat dengan gaya menulis yang berulang kali dihapus. Lalu saya sebagai orang tuanya harus bagaimana?
Pihak sekolah memberikan beberapa saran untuk melatih motorik tangan Dinda yang mungkin kurang luwes sehingga menimbulkan masalah dalam dia menulis. Beberapa latihan ini berguna untuk melemaskan otot-otot tangan dengan tidak melibatkan pensil atau tidak berhubungan dengan ajakan menulis. Karena hal-hal yang berhubungan dengan menulis sudah membuatnya ’muak’ (bukan dalam arti sebenarnya).
Di bawah ini beberapa saran yang bisa dipergunakan untuk melatih motorik anak yang mengalami keterlambatan kemampuan menulis:
Saat ini Dinda sedang menjalani terapi motorik tangan ini untuk melancarkan kemampuannya menulis. Semua ini memang tidak bisa hanya dilakukan di sekolah tetapi kegiatan di rumah yang intensif kemungkinan akan sangat membantu. Semoga berhasil. Amiin.
Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.